Kebahagiaan guru dan siswa tumpah ruah mulai dari lapangan rumput hingga aula pertemuan. Hari guru tdk dilihat hanya pd setiap tgl 25 November, namun perlu diingat 100 hari pasca kemerdekaan, guru diakui sebagai bagian organisasi yg menjadi landasan dirayakan sbg hari guru. Dalam perkembangannya, kondisi guru jatuh bangun karena negara baru merdeka dan masih berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan. Dan di sisi lain negara cukup direpotkan menghadapi pengaruh komunis. Sejarah mencatat betapa guru nyaris terperangkap ideologi kiri dgn tujuan terjadi infiltrasi dan doktrinisasi pd generasi baru utk menanamkan ajaran komunisme. Upaya itu gagal karena guru berdiri tegak sbg benteng ideologi Pancasila hingga sekarang. Masa keemasan guru Indonesia tercatat dgn indah dalam tinta emas ketika negeri ini pernah mengirimkan guru terbaiknya ke negara serumpun Malaysia. Setelahnya, sengkarut cerita epik dan elegi datang silih berganti hingga dipotret oleh para seniman dan sastrawan besar. Sebut sj Iwan Fals dgn lagunya “Umar Bakri’ yg mengisahkan cerita pilu seorang guru dgn mengayuh sepeda pancang dan dasinya terbang tdk tentu arah disapu angin. Kemudian penulis novel terkenal Andrea Hirata dgn karyanya ‘Laskar Pelangi” mengupas tuntas perjuangan ibu guru Muslimah Hafsari dan murid yg berjalan hingga puluhan kilometer untuk mencapai sekolah. Kini, bukan yg dulu lagi. Masa era reformasi matahari baru mulai terbit melukiskan mimpi bagi kaum guru Indonesia. Setelah melewati 4 hingga 5 presiden, guru Indonesia dpt bernapas lega karena bidikan pertama pemerintah adalah kesejahteraan kemudian diikuti dgn treatment lainnya. Kesejahteraan dianggap sbg katalisator menuju gerbang mutu, profesionalisme dan era persaingan global secara kompetitif dan komparatif. Globalisasi adalah satu rumah tangga dunia yg bernama global citizen yg TDK dapat dibatasi lg dgn garis demarkasi suatu negara. Pendidikan adalah aset investasi abadi yg TDK dpt tergantikan. Siswa hebat di dalamnya pasti ada guru hebat. Maha karya seorang guru adalah bagimana cara menjadikan siswanya lebih pintar dari gurunya, mampu memahami, mendalami, dan selalu mengasah potensi kritis siswa sehingga mereka mampu mewakili generasinya. Mahkota seorang seorang guru adalah pewarisan nilai-nilai yang menjunjung tinggi norma, moral kepribadian sebagai elemen penting melengkapi intelektualitas bangsa. Selamat hari raya guru.(Imran Ganiz)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *